Quotes from Harry Potter

“I don’t go looking for trouble. Trouble usually finds me.” (Harry)

“The mind is not a book, to be opened at will and examined at leisure.” (Severus Snape)

“To the well organized mind, death is but the next great adventure.” (Albus Dumbledore)

“It is our choices, Harry, that show what we truly are, far more than our abilities.” (Albus Dumbledore)

“Fear of a name increases fear of a thing itself.” (Albus Dumbledore)

“Humans have a knack for choosing precisely the things that are worst for them.” (Albus Dumbledore)

“Remember, if the time should come when you have to make a choice between what is right and what is easy, remember what happened to a boy who was good, and kind, and brave, because he strayed across the path of Lord Voldemort. Remember Cedric Diggory.” (Albus Dumbledore)

“You fail to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow to be.” (Albus Dumbledore)

“It does not do to dwell on dreams and forget to live.” (Albus Dumbledore)

“It’’s the unknown we fear when we look upon death and darkness, nothing more.” (Albus Dumbledore)

“It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends.” (Albus Dumbledore)

“”Of course it is happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?”” (Albus Dumbledore)
“Things we lose have a way of coming back to us in the end, if not always in the way we expect.” (Luna Lovegood)
“The world isn’t split into good people and Death Eaters. We have all got both light and dark inside us. What matters is the power we choose to act on. That’s who we really are.” (Sirius Black)
“The truth…It is a beautiful and terrible thing, and should therefore be treated with great caution.” (Dumbledore)
Advertisements

Sang Alkemis : (III) Quotes

Quotes, best moments, best lines, all from Coelho’s most inspirational book…

“Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota asal mereka,” si anak lelaki menjelaskan.

“Saat melihat negeri kita, orang-orang ini juga mengatakan ingin tinggal di sini selamanya,” ayahnya melanjutkan.

“Aku juga ingin melihat negeri mereka, serta cara hidup mereka,” sahut anaknya.

“Orang-orang yang datang kemari itu punya uang banyak, sehingga mereka mampu bepergian,” kata ayahnya. “Di kalangan kita hanya para  gembala yang berkelana.”

“Kalau begitu, aku mau menjadi gembala saja.”

Seperti dia mengerti mengapa si pemilik kedai tampak begitu geram : dia ingin memperingatkan aku supaya tidak mempercayai pemuda itu. “Tapi aku seperti orang-orang pada umumnya – hanya melihat apa yang ingin kulihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi.”

 

“Dasar penyihir tua,” si anak berseru kepada langit. “Kau sudah tahu kisah selengkapnya. Kau sengaja meninggalkan potongan emas itu di biara, supaya aku bisa kembali ke gereja ini. Rahib itu tertawa ketika melihatku datang dengan pakaian compang-camping. Tidak bisakah kau menghindarkan aku dari nasib itu?”

Jawabannya serasa datang dalam hembusan angin. “Tidak. Kalau aku memberitahumu, kau tidak bakal melihat Piramida-Piramida itu. Indah sekali, bukan?”

“Isi buku ini sama dengan isi hampir semua buku lain di dunia,” orang tua itu melanjutkan. “Dalam buku ini digambarkan ketidakmampuan irang memilih takdir mereka sendiri. Dan pada akhirnya dikatakan bahwa setiap orang percaya akan dusta terbesar di dunia.”

”Berapa banyak domba-dombamu?”

“Cukup banyak,” sahut si anak. Rupanya laki-laki tua ini ingin tahu lebih banyak tentang kehidupannya.

“Kalau begitu, kita punya masalah. Aku tidak bisa menolongmu kalau kau merasa sudah punya cukup banyak domba.”

Lalu dia memandang langit dengan perasaan agak malu, dan katanya, “Aku tahu ini adalah kesia-siaan atas kesia-siaan seperti kataMu, ya Tuhan. Tapi kadang raja tua ini ingin merasa bangga akan dirinya.”

“Rombongan ini terdiri atas berbagai bangsa, dan masing-masing mempunyai Tuhannya sendiri. Tapi aku hanya melayani satu Tuhan, yaitu Allah, dan dalam nama Allah aku bersumpah, sekali lagi aku akan berusaha sedapat mungkin menaklukkan padang pasir ini. Kuminta masing-masing dari kalian bersumpah sesuai Allah yang kalian sembah, bahwa kalian akan mengikuti perintahku. Di padang pasir, ketidakpatuhan bisa membawa kematian.”

Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima. Tapi kedua tangan gadis itu memegang erat gagang-gagang buyungnya.

“Kau telah menceritakan padaku tentang mimpi-mimpimu, raja tua itu, dan harta karunmu. Kau juga menceritakan pertanda-pertanda itu. Jadi, sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan, sebab pertanda-pertanda itulah yang telah membawamu padaku. Aku bagian dari mimpimu, bagian dari takdirmu, seperti kaukatakan.

“Karena itulah aku ingin kau meneruskan mencari impianmu. Kalau kau merasa harus menunggu sampai perang berakhir, tunggulah. Tapi kalau kau merasa harus pergi sekarang juga, pergilah mengejar mimpimu. Bukit-bukit pasir ini senantiasa berubah diembus angin, akan tetapi padang gurun itu tak pernah berubah. Begitu pula cinta kita.

“Maktub,” kata gadis itu. “Kalau aku memang bagian dari mimpimu, suatu hari nanti kau pasti kembali.”

  (Writer’s note : ini line favorit saya, btw J bener2 sesuatu yaa)

Orang asing it memasukkan pedang ke sarungnya, dan si anak merasa lega.

“Aku harus menguji keberanianmu,” kata si orang asing. “Keberanian adalah factor penting untuk bisa memahami Bahasa Dunia.”

Anak itu terperangah. Orang asing ini mengetahui hal-hal yang hanya diketahui sedikit sekali orang.

Akhirnya seorang wanita muda mendeka. Si anak lelaki mendekatinya untuk menanyakan tentang sang alkemis. Pada saat itu waktu seakan berhenti bergerak, dan Jiwa Dunia bergolak di dalam dirinya. Ketika dia menatap mata gelap gadis itu, dan melihat bibirnya yang setengah tertawa dalam kebisuan, dia pun belajar bahasa yang bisa dipahami semua orang di hati mereka. Bahasa cinta.

Setibanya di puncak bukit pasir, hati si anak bagai teronjak. Di sana, di bawah cahaya bulan serta terangnya padang pasir, berdiri Piramida-Piramida Mesir yang anggun dan megah itu. Si anak jatuh berutut dan menangis tersedu-sedu. Dia bersyukur pada Tuhan yang teah memberinya keyakinan untuk percaya pada takdirnya,…

“Mereka sekedar mencari emas,” sahut sang alkemis. “Mereka mencari harta yang ditakdirkan bagi mereka, tapi tidak mau menjalani takdir itu.”

Angin mulai bertiup lagi. Levanter, angin yang berembus dari Afrika. Angin itu tidak membawa aroma padang pasir ataupun ancaman penyerbuan bangsa Moor. Angin itu membawa keharuman parfum yang telah begitu dikenalnya, dan ciuman lembut – ciuman yang datang dari jauh, pelan… begitu pelan… menyapu bibirnya.

Anak itu tersenyum. Baru kali itu Fatima memberinya ciuman.

“Tunggu aku, Fatima,” katanya.

Sang Alkemis : (II) Sinopsis

Ketika Santiago memutuskan untuk keluar dari seminari tempatnya dididik menjadi pastor demi kehidupan menjelajah yang ia inginkan, ketika itu pulalah nasib memanggilnya sebagai pemuda yang memahami dunia bukan dari bahasa fisik yang diutarakan langsung, namun dari intisarinya sendiri, dari bahasa dunia yang universal dan tak dikotakkan oleh perbedaan kata-kata semata.

Santiago adalah seorang anak laki-laki dari keluarga petani miskin Andalusia yang selalu bermimpi untuk bisa menjelajah dunia. Kekurangan uang membuatnya menghidupi mimpi dengan menjadi pengembala dan ia menikmati setiap detik dari hari-harinya. Hampir dua tahun mengembala, ia mendapatkan mimpi berulang tentang harta karun yang tersembunyi di Piramida-Piramida Mesir.

Rasa penasaran mendorong Santiago untuk menemui wanita peramal di Tarifa, yang dengan gamblangnya menafsirkan mimpi itu sebagai petunjuk bagi Santiago untuk pergi mencari harta karun di Mesir. Awalnya ia tak begitu yakin, tapi lalu ia bertemu seorang pria tua yang mengaku sebagai Melkisedek, Raja Salem, yang meyakinkannya untuk membaca pertanda, menjual domba-domba gembalaannya dan berangkat ke Mesir.

Itulah yang dilakukan Santiago. Malang, begitu sampai di pelabuhan di Afrika ia tertipu dan seluruh uangnya habis. Ia mencoba menerima kenyataan pahit ini dan akhirnya melamar pekerjaan di sebuah toko kristal terlantar. Jiwa filosofis Santiago yang terdidik baik membantu toko itu menjadi ramai kembali. Setelah hampir setahun bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke tujuan utamanya : menemukan harta karun di piramida.

Ia pun bergabung dengan rombongan yang juga akan berangkat melintasi padang pasir. Disana ia bertemu seorang Inggris yang berprofesi sebagai alkemis. Ia menceritakan tujuan utamanya, yaitu mencari Sang Alkemis di oasis padang pasir. Konon Sang Alkemis ini bisa memurnikan logam sedemikian rupa sehingga bagian cairnya meramu kehidupan dan bagian padatnya mengubah setiap jenis logam menjadi emas murni.

Di oasis, mereka berhasil menemukan alamat Sang Alkemis dari seorang gadis cantik bernama Fatima. Ia dan Santiago langsung saling jatuh cinta. Santiago nyaris merelakan mimpi-mimpinya tentang piramida, namun naluri Fatima sebagai wanita gurun menyakinkannya untuk berangkat. Sang Alkemis ternyata justru menolongnya dalam perjalanan hingga mereka mencapai sebuah biara dan berpisah disana.

Sendirian Santiago berkuda menuju piramida-piramida dan memulai penggalian, namun hasilnya nihil. Suatu malam saat sedang menggali, beberapa orang pria mencoba merampoknya. Mereka mendapat sepotong kecil emas di tasnya, pemberian Sang Alkemis. Santiago menjelaskan mimpi-mimpinya kepada para pria tersebut, tapi mereka tidak peduli dan justru memukulinya hingga babak belur.

Salah seorang dari mereka bahkan mengejek Santiago dan dengan nada sombong mengatakan bahwa iapun pernah mendapatkan mimpi berulang tentang harta karun di akar-akar pohon sycamore yang tumbuh di padang-padang Andalusia. Saat itulah Santiago menyadari semuannya, karena ia tahu persis pohon sycamore mana yang dimaksud. Ia pulang kembali ke Andalusia dan menemukan harta karun itu tertimbun di akar-akarnya.

Dan sekarang setelah harta karunnya ditemukan, ia berencana kembali ke padang-padang pasir di Afrika, ke Fatima.

 

Alam Semesta Bersatu Untuk Menggali Harta Sang Alkemis

Alam Semesta Bersatu Untuk Menggali Harta Sang Alkemis

Apa yang akan kau lakukan ketika di saat-saat kau merasa hidupmu sempurna, ada serbuan mimpi-mimpi yang menggodamu untuk meninggalkan tanah yang kau cintai, mengembara dan berkemungkinan terlunta-lunta di negeri asing?

re_buku_picture_86060

Judul buku : Sang Alkemis

Penulis       : Paulo Coelho

                        Penerjemah        : Tanti Lesmana

Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ke         : 13

Waktu terbit       : Juni 2012

Tebal          : 216 halaman

Harga                  : Rp 40.000,00

 

 

 

 

Jika Batu Filsuf adalah karya agung peneliti alkimia, maka Sang Alkemis adalah karya agung Paulo Coelho. Terlahir dari keluarga mekanik pada 20 Agustus 1947 di Rio de Janeiro, Brazil, Coelho dari mudanya telah bercita-cita menjadi penulis, seperti Santiago dalam Sang Alkemis bermimpi untuk menjelajah dunia. Namun keinginan Coelho terhambat oleh orangtuanya sendiri. Di usia 16 tahun, Coelho dikirim orangtuanya sendiri ke institusi pendidikan mental hingga ia berusia 20 tahun. Namun seperti kemudian ia nyatakan , “Mereka tidak melakukannya untuk menyakitiku, mereka hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan… Mereka tidak bermaksud menghacurkanku, mereka melakukannya untuk menyelamatkanku.”

Tokoh utama dalam novel ini adalah remaja bernama Santiago. Ia telah meninggalkan kehidupan di seminari yang statis dan menjamin kedudukan pastur di masa depan, demi impian menjelajah yang telah menghidupi hatinya sejak ia kecil. Keterbasan ekonomi membuatnya hanya bisa menjelajah sambil menggembala domba. Dua tahun lamanya ia menjelajahi padang-padang Andalusia, dan dua tahun itu ia menikmati pengembaraannya, jatuh cinta pada hidupnya.

Tetapi kemudian ia mendapatkan mimpi berulang mengenai harta karun di Piramida-Piramida Mesir yang mengganggunya. Ia lalu bertemu dengan Melkisedek di Tarifa. Pria tua yang mengaku sebagai Raja Salem itu menasihati Santiago dengan kebijaksanaannya –  bahwa manusia bisa kapan saja memilih untuk menjalani mimpi-mimpi mereka. Petualangan Santiago ke Mesir pun dimulai.

Santiago bertemu banyak orang dalam perjalanannya – pedagang kristal, seorang pria Inggris, cinta sejatinya Fatima di oasis, dan sang alkemis itu sendiri. Pencarian harta dunia itu pun berubah menjadi pencarian harta jiwa, yaitu Jiwa Dunia. Dalam buku ini dicantumkan bahwa hati manusia berasal dari Jiwa Dunia, dan mendengarkan kata hati berarti mendengarkan jiwa dunia itu sendiri.

Walaupun akhirnya Santiago menemukan bahwa harta yang dicarinya itu sebenarnya berada di Andalusia, ia tidak menyesali pengorbanannya. Sebaliknya ia justru bersyukur karena mampu menjalani takdirnya dan mendapatkan lebih dari sekedar emas dan mata uang kuno. Terutama pertemuannya dengan cinta sejatinya, seorang gadis gurun Al-Fayoum bernama Fatima.

Dalam novel ini disebutkan bahwa hal yang harus dimiliki untuk menggapai Jiwa Dunia adalah keberanian. Berani untuk meninggalkan zona aman dan berani melakukan kata-kata hati kita. Karena walaupun semua orang ingin menjadi pribadi yang sukses, jarang ada yang berkomitmen saat menjalani takdir mereka. Jarang ada yang cukup kuat berdiri saat orang-orang meragukan mereka. Membaca novel ini membantu kita menemukan kekuatan dan kesadaran bahwa tak ada hasil tanpa perjuangan, dan perjuangan akan selalu membuahkan hasil walaupun kadang tak sesuai dengan apa yang awalnya kita impikan.

Tak diragukan lagi karya klasik Coelho yang satu ini adalah novel yang wajib dibaca semua kalangan. Ia berhasil melarutkan pelajaran berharga ke dalam lautan sastra dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Di tengah kemiskinan dunia sastra akan buku berbobot, Sang Alkemis adalah pelepas dahaga. Dialog berbobot dalam novel ini membantu pembaca berefleksi pada kehidupannya sendiri.

Saya merasa kesulitan menemukan kekurangan dalam buku ini karena semuanya terliha begitu sempurna, jatuh pada tempatnya.

Novel keenam pria yang sekarang berusia 65 tahun ini memang pantas dianugerahi Guinness World Record for Most Translating Book by Living Author dan adalah sangat tepat ketika UN menamainya Messenger of Peace. Secara pribadi, penulis menilai novel berjudul asli O Alquimista ini yang terbaik dan paling bermakna dibandingkan novel lain Coelho seperti Brida atau The Pilgrimage. Apalagi dibandingkan novel-novel bergenre sejenis dari novelis lain. A must to read!

Dalam kurun waktu tertentu – entah itu tahun, dekade, atau malah abad – terbit novel yang menggugah dan mengubah hidup pembacanya. Sang Alkemis adalah salah satu dari novel-novel tersebut.

“I doimages (5)n’t live in either my past or my future.

I’m interested only in the present.

If you can concentrate always on the present,

 you’ll be a happy man.

Life will be a party for you, a grand festival,

because life is the moment we’re living now.”

 

 

 

p.s : English version will (insyaAllah) soon followed

p.p.s : penasaran dengan kisah Santiago selengkapnya? Synopsis The Alchemist, coming real soon!!

The Accidental Tourist

A while ago, I read a book called The Accidental Tourist. The abridged version, actually, but the same story nevertheless. I’d like to share it with you….

Authentic Author : Anne Tyler

If you ever write guidelines to help people get through what you’re going through, then you definitely can relate to Macon Leary. But there’smore to him than the introversive and routine-loving side

Macon Leary loved routines and hated traveling. Ironically, he wrote guidebooks for people like him – called the Accidental Tourist series. This obliged him to travel to places. That had been his life – his perfect boring little life with his dear wife Sarah and their only son, Ethan.

So everything totally changed when Ethan was shot during his school holiday. Sarah was torn apart by his death, and although Macon was just in as much grief, their marriage started to falling apart. Couldn’t bear Macon’s lack of attention and comforting words, Sarah stated she wanted a divorce, packed her things, and left.

All alone, it took him three whole weeks before he had the gut to tell her unmarried young sister and two divorced older brothers – who lived together. They’re concerned about him, but Macon insisted he was doing fine. When his boss Julian asked him to make a new edition of Accidental Tourist in England , that was when he found a new problem. The usual place won’t take Edward, his dog, because he bit an attendant the last time he was there. Desperate, he took Edward to Meow-Bow Hospital.

The girl in the front desk accepted Edward gladly, and introduced herself as Muriel. Macon met her again after he came back from England, when he picked Edward. Muriel started staring and flirting, and in the end not only she gave Macon her card, she offered her service to train Edward.

Macon didn’t put much thoughts of that. He came home and started doing things, until the little incidents in the basements happened, resulting in his leg got double bend. Macon was forced to stay with Rose then. There, Edward got even wilder, attacking and biting people. That left Macon no choice but to call Muriel for help.

Muriel not only taught Edward to sit and sleep and stay, she also told Macon stories about herself. It was going smooth until Macon found out she had had a little boy. Muriel, crazy in love, was afraid it was just gonna ruin the possibility of their relationship. She stormed out and didn’t come back for a while.

accidentaltouristThen he got a phone call from Sarah, just to know that she’d filled the divorce paper and had sent him one as well. Macon hadn’t get over Sarah, in fact, he still found her quite charming which actually the sweetest things written in this book. However, live went on, and when Edward got all wild again Macon was forced to call Muriel for help. Edward’s training continued, led these two to spend time together, talking and shopping and finally kissing.

Meanwhile, Julian found himself in love with Rose Leary. After stood up for her and her wrongly-baked turkey at thanksgiving, he decided to marry her and proposed at Christmas. Macon’s love story didn’t go as that smooth though. He tried to refused Muriel’s invitation for dinner, but in the end he showed up anyway, spent the night at her house. He got along with Muriel’s son, Alexander, and even went with Muriel to her parents’ home. Muriel looked so childish and annoying when she hopelessly told him she didn’t expect more of his visit, since her mom made her look bad (although she was).

Rose, Charles, and Porter all tried to assure Macon that Muriel’s not his type, but he didn’t respond. He’d been living with Muriel for a while when things got even more complicated. Muriel wanted to marry him, but Macon didn’t, so there was shouting and throwing.

Anyway, Macon had to go to Paris to write a new book. Muriel insisted to go to, but Macon refused. Muriel started her stalking, and after borrowing money from Bernice and Claire, managed to buy the same plane tickets as Macon, even stayed in the same hotel and buy clothes. He kept refusing her invitation to have dinner or anything, but this persuasive person just kept sticking and asking.

Macon was just about to leave when his back went out. That was when Sarah came to take care of him. They were doing perfectly well together. But show must go on. Spend the night thinking of Sarah and Muriel, he finally decided to left Sarah, left his belongings, and went for Muriel.