Dibalik Memori yang Hilang dan yang Terbuang

Kecanggihan modalitas diagnosis di rumah sakit dan beratus obat bermerk kadang membuat kita lupa, tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Demam berdarah bisa didiagnosis dengan cek darah, maag bisa dilawan dengan obat warung yang murah, tumor jinak bisa dibabat di ruang operasi dengan pisau bedah. Namun penyakit Alzheimer, proses kehilangan fungsi otak progresif yang biasanya menyerang lansia, jangankan diobati, untuk ditegakkan diagnosisnya saja sulit. Fungsi otak yang terganggu awalnya bermanifestasi dalam bentuk kehilangan ingatan jangka pendek atau umum dikenal sebagai pikun, dan seiring waktu  muncul pula gangguan kerja otot, kesulitan berbicara, kehilangan ingatan jangka panjang, disorientasi, bahkan kematian.

Buku ini mnceritakan penyakit Alzheimer dari sudut pandang seorang dokter yang sehari-hari berkutat dengan pasien tua, memberi pembaca gambaran solid mengenai penyakit ini…dan kisah menyentuh hati yang sering kali dialami bukan hanya pasien Alzheimer, namun juga keluarga dan teman terdekat mereka.

Judul               : An Ocean of Time, Alzheimer’s: Tales of Hope and Forgetting

Penulis            : Patrick Mathiasen, MD

Penerbit           : Scribner

Tahun terbit     : 1997

No. panggil     : 616.831.MAT.o

Mathiasen adalah seorang psikiater atau dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa dengan ketertarikan khusus di bidang psikiatri geriatri (masalah kejiwaan pada lansia) khususnya  penyakit Alzheimer. Ketertarikan ini dimulai sejak ia kecil. Hampir semua kerabatnya dari pihak ayah menderita Alzheimer dan harus menghabiskan sisa hidup mereka di pusat perawatan lansia berkebutuhan khusus. Pada akhirnya, dr. Mathiasen menyaksikan paman dan bibinya meninggal dalam pelukan Alzheimer, menerima kabar tentang ayahnya yang tenggelam beberapa bulan setelah didiagnosis Alzheimer, dan puncaknya menyaksikan sendiri seorang guru dan sejawat – yang sudah ia anggap ayah sendiri – tiba-tiba bertingkah gila dan berteriak-teriak justru di hari perayaan pensiunnya beliau dari rumah sakit tempatnya lama mengabdi. Pada akhirnya sang mantan dokter senior ini pun didiagnosis dengan Alzheimer. Diagnosis yang menjadi kabar buruk bukan hanya bagi keluarga sang dokter senior namun juga bagi dr. Mathiasen yang seolah kehilangan sosok ayah keduanya. Dokter yang pernah menjadi presiden Asosiasi Psikiater Washington ini akhirnya memutuskan untuk mendalami psikiatri di Seattle setelah menyelesaikan residensinya di bidang ilmu penyakit dalam. Sepanjang pendidikannya menjadi spesialis ia menyaksikan derita fisik dan emosi yang menerpa pasien dan keluarga mereka – dan dorongan emosi ini menguatkan dedikasinya terhadap pasien Alzheimer.

Beberapa pasien Alzheimer atau dicurigai Alzheimer diceritakan dr. Mathiasen dengan apik dalam buku ini. Bridget adalah ibu dari sejawat dr. Mathiasen di bidang bedah jantung, yang dirujuk ke beliau oleh dokter keluarganya akibat munculnya perubahan perilaku setelah seorang saudara Bridget meninggal dunia. Wawancara dan pemeriksaan psikiatri tidak menunjukkan gangguan jiwa pada Bridget, dan dr. Mathiasen pun akhirnya memberikan surat keterangan sehat. Satu-dua tahun kemudian, ia dipanggil ke kediaman Bridget karena wanita itu mulai mengalami kesulitan berbicara dan gangguan gerak, yang sering ditemui pada pasien Alzheimer lanjut. Diagnosis yang mungkin sudah muncul di kepala sang anak, bagaimanapun juga, putra Bridget adalah seorang dokter. Namun seperti dikatakan perawatnya, sang putra ‘couldn’t even say the word [Alzheimer’s].’ Seorang imigran Italia bernama Mario terpaksa pindah dari rumah yang ia tempati bersama putrinya karena progresi Alzheimer yang ia derita membuatnya perlu diawasi terus-menerus. Dan June mungkin tidak akan pernah mampu merelakan minimnya terapi yang tersedia untuk neneknya. Kisah mereka banyak yang berakhir pilu, banyak yang terpaksa meninggalkan ruang periksa dengan perasaan berat dan seribu pertanyaan tak terjawab.

Tuhan Maha Adil, diagnosis yang menjadi petaka di beberapa keluarga justru menjadi berkah tersembunyi di keluarga lain. Degenerasi otak Mary Pearson membuatnya sering merasa berada di masa lalu, dengan suaminya yang telah meninggal dunia, berhalusinasi suaminya akan berangkat perang saat ia sedang mengandung putri pertamanya. Putri Mary, Susan, merasa bahwa ia menjadi lebih memahami masa lalu sang ibu dan hal ini menjadikan ikatan di antara mereka lebih dekat. Karen bahkan terang-terangan mengucapkan syukurnya bahwa sang suami terkena Alzheimer, karena ‘kebetulan’ penyakit ini membuat Lawrence terkungkung dalam ingatan masa terbahagia dalam hidupnya sebagai pemain baseball. Samuel mungkin tidak akan pernah bertemu kembali dengan saudaranya Arthur jika bukan karena diagnosis Alzheimer-nya. Sidney dan Jay, dua bersaudara yang kerap berseteru semakin mereka beranjak dewasa, melupakan kebencian diantara mereka saat sang ibu, ‘lupa’ bahwa kedua bersaudara itu tidak akur, memegang tangan dan berbicara kepada keduanya seolah mereka masih belia. Ia tidak menyadarinya, namun Laura, dalam sakitnya, justru menyembuhkan perpecahan dalam keluarganya.

Alzheimer, kata yang menjadi momok bagi banyak pasien tua, yang telah memisahkan dan menyatukan banyak keluarga, yang sulit dicari penyebabnya dan hampir mustahil dihentikan perburukannya. Namun dr. Mathiasen dan kegigihannya menunjukkan bahwa diagnosis Alzheimer bukanlah suatu impending doom bagi pasien dan keluarganya. Selama masih ada dokter yang mau mendengarkan dan kerabat yang mau memahami, optimalisasi kualitas hidup seorang pasien Alzheimer bukanlah hal yang mustahil terjadi. Do your best, Ben Carson pernah berkata, and let God do the rest. Kesulitan diagnosis dan perawatan Alzheimer bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa. A must read for (aspiring) psychiatrist, geriatrics caretaker, or just anyone who cares about Alzheimer!

 

Advertisements