Sang Alkemis : (III) Quotes

Quotes, best moments, best lines, all from Coelho’s most inspirational book…

“Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota asal mereka,” si anak lelaki menjelaskan.

“Saat melihat negeri kita, orang-orang ini juga mengatakan ingin tinggal di sini selamanya,” ayahnya melanjutkan.

“Aku juga ingin melihat negeri mereka, serta cara hidup mereka,” sahut anaknya.

“Orang-orang yang datang kemari itu punya uang banyak, sehingga mereka mampu bepergian,” kata ayahnya. “Di kalangan kita hanya para  gembala yang berkelana.”

“Kalau begitu, aku mau menjadi gembala saja.”

Seperti dia mengerti mengapa si pemilik kedai tampak begitu geram : dia ingin memperingatkan aku supaya tidak mempercayai pemuda itu. “Tapi aku seperti orang-orang pada umumnya – hanya melihat apa yang ingin kulihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi.”

 

“Dasar penyihir tua,” si anak berseru kepada langit. “Kau sudah tahu kisah selengkapnya. Kau sengaja meninggalkan potongan emas itu di biara, supaya aku bisa kembali ke gereja ini. Rahib itu tertawa ketika melihatku datang dengan pakaian compang-camping. Tidak bisakah kau menghindarkan aku dari nasib itu?”

Jawabannya serasa datang dalam hembusan angin. “Tidak. Kalau aku memberitahumu, kau tidak bakal melihat Piramida-Piramida itu. Indah sekali, bukan?”

“Isi buku ini sama dengan isi hampir semua buku lain di dunia,” orang tua itu melanjutkan. “Dalam buku ini digambarkan ketidakmampuan irang memilih takdir mereka sendiri. Dan pada akhirnya dikatakan bahwa setiap orang percaya akan dusta terbesar di dunia.”

”Berapa banyak domba-dombamu?”

“Cukup banyak,” sahut si anak. Rupanya laki-laki tua ini ingin tahu lebih banyak tentang kehidupannya.

“Kalau begitu, kita punya masalah. Aku tidak bisa menolongmu kalau kau merasa sudah punya cukup banyak domba.”

Lalu dia memandang langit dengan perasaan agak malu, dan katanya, “Aku tahu ini adalah kesia-siaan atas kesia-siaan seperti kataMu, ya Tuhan. Tapi kadang raja tua ini ingin merasa bangga akan dirinya.”

“Rombongan ini terdiri atas berbagai bangsa, dan masing-masing mempunyai Tuhannya sendiri. Tapi aku hanya melayani satu Tuhan, yaitu Allah, dan dalam nama Allah aku bersumpah, sekali lagi aku akan berusaha sedapat mungkin menaklukkan padang pasir ini. Kuminta masing-masing dari kalian bersumpah sesuai Allah yang kalian sembah, bahwa kalian akan mengikuti perintahku. Di padang pasir, ketidakpatuhan bisa membawa kematian.”

Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima. Tapi kedua tangan gadis itu memegang erat gagang-gagang buyungnya.

“Kau telah menceritakan padaku tentang mimpi-mimpimu, raja tua itu, dan harta karunmu. Kau juga menceritakan pertanda-pertanda itu. Jadi, sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan, sebab pertanda-pertanda itulah yang telah membawamu padaku. Aku bagian dari mimpimu, bagian dari takdirmu, seperti kaukatakan.

“Karena itulah aku ingin kau meneruskan mencari impianmu. Kalau kau merasa harus menunggu sampai perang berakhir, tunggulah. Tapi kalau kau merasa harus pergi sekarang juga, pergilah mengejar mimpimu. Bukit-bukit pasir ini senantiasa berubah diembus angin, akan tetapi padang gurun itu tak pernah berubah. Begitu pula cinta kita.

“Maktub,” kata gadis itu. “Kalau aku memang bagian dari mimpimu, suatu hari nanti kau pasti kembali.”

  (Writer’s note : ini line favorit saya, btw J bener2 sesuatu yaa)

Orang asing it memasukkan pedang ke sarungnya, dan si anak merasa lega.

“Aku harus menguji keberanianmu,” kata si orang asing. “Keberanian adalah factor penting untuk bisa memahami Bahasa Dunia.”

Anak itu terperangah. Orang asing ini mengetahui hal-hal yang hanya diketahui sedikit sekali orang.

Akhirnya seorang wanita muda mendeka. Si anak lelaki mendekatinya untuk menanyakan tentang sang alkemis. Pada saat itu waktu seakan berhenti bergerak, dan Jiwa Dunia bergolak di dalam dirinya. Ketika dia menatap mata gelap gadis itu, dan melihat bibirnya yang setengah tertawa dalam kebisuan, dia pun belajar bahasa yang bisa dipahami semua orang di hati mereka. Bahasa cinta.

Setibanya di puncak bukit pasir, hati si anak bagai teronjak. Di sana, di bawah cahaya bulan serta terangnya padang pasir, berdiri Piramida-Piramida Mesir yang anggun dan megah itu. Si anak jatuh berutut dan menangis tersedu-sedu. Dia bersyukur pada Tuhan yang teah memberinya keyakinan untuk percaya pada takdirnya,…

“Mereka sekedar mencari emas,” sahut sang alkemis. “Mereka mencari harta yang ditakdirkan bagi mereka, tapi tidak mau menjalani takdir itu.”

Angin mulai bertiup lagi. Levanter, angin yang berembus dari Afrika. Angin itu tidak membawa aroma padang pasir ataupun ancaman penyerbuan bangsa Moor. Angin itu membawa keharuman parfum yang telah begitu dikenalnya, dan ciuman lembut – ciuman yang datang dari jauh, pelan… begitu pelan… menyapu bibirnya.

Anak itu tersenyum. Baru kali itu Fatima memberinya ciuman.

“Tunggu aku, Fatima,” katanya.

Advertisements