Sang Alkemis : (II) Sinopsis

Ketika Santiago memutuskan untuk keluar dari seminari tempatnya dididik menjadi pastor demi kehidupan menjelajah yang ia inginkan, ketika itu pulalah nasib memanggilnya sebagai pemuda yang memahami dunia bukan dari bahasa fisik yang diutarakan langsung, namun dari intisarinya sendiri, dari bahasa dunia yang universal dan tak dikotakkan oleh perbedaan kata-kata semata.

Santiago adalah seorang anak laki-laki dari keluarga petani miskin Andalusia yang selalu bermimpi untuk bisa menjelajah dunia. Kekurangan uang membuatnya menghidupi mimpi dengan menjadi pengembala dan ia menikmati setiap detik dari hari-harinya. Hampir dua tahun mengembala, ia mendapatkan mimpi berulang tentang harta karun yang tersembunyi di Piramida-Piramida Mesir.

Rasa penasaran mendorong Santiago untuk menemui wanita peramal di Tarifa, yang dengan gamblangnya menafsirkan mimpi itu sebagai petunjuk bagi Santiago untuk pergi mencari harta karun di Mesir. Awalnya ia tak begitu yakin, tapi lalu ia bertemu seorang pria tua yang mengaku sebagai Melkisedek, Raja Salem, yang meyakinkannya untuk membaca pertanda, menjual domba-domba gembalaannya dan berangkat ke Mesir.

Itulah yang dilakukan Santiago. Malang, begitu sampai di pelabuhan di Afrika ia tertipu dan seluruh uangnya habis. Ia mencoba menerima kenyataan pahit ini dan akhirnya melamar pekerjaan di sebuah toko kristal terlantar. Jiwa filosofis Santiago yang terdidik baik membantu toko itu menjadi ramai kembali. Setelah hampir setahun bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke tujuan utamanya : menemukan harta karun di piramida.

Ia pun bergabung dengan rombongan yang juga akan berangkat melintasi padang pasir. Disana ia bertemu seorang Inggris yang berprofesi sebagai alkemis. Ia menceritakan tujuan utamanya, yaitu mencari Sang Alkemis di oasis padang pasir. Konon Sang Alkemis ini bisa memurnikan logam sedemikian rupa sehingga bagian cairnya meramu kehidupan dan bagian padatnya mengubah setiap jenis logam menjadi emas murni.

Di oasis, mereka berhasil menemukan alamat Sang Alkemis dari seorang gadis cantik bernama Fatima. Ia dan Santiago langsung saling jatuh cinta. Santiago nyaris merelakan mimpi-mimpinya tentang piramida, namun naluri Fatima sebagai wanita gurun menyakinkannya untuk berangkat. Sang Alkemis ternyata justru menolongnya dalam perjalanan hingga mereka mencapai sebuah biara dan berpisah disana.

Sendirian Santiago berkuda menuju piramida-piramida dan memulai penggalian, namun hasilnya nihil. Suatu malam saat sedang menggali, beberapa orang pria mencoba merampoknya. Mereka mendapat sepotong kecil emas di tasnya, pemberian Sang Alkemis. Santiago menjelaskan mimpi-mimpinya kepada para pria tersebut, tapi mereka tidak peduli dan justru memukulinya hingga babak belur.

Salah seorang dari mereka bahkan mengejek Santiago dan dengan nada sombong mengatakan bahwa iapun pernah mendapatkan mimpi berulang tentang harta karun di akar-akar pohon sycamore yang tumbuh di padang-padang Andalusia. Saat itulah Santiago menyadari semuannya, karena ia tahu persis pohon sycamore mana yang dimaksud. Ia pulang kembali ke Andalusia dan menemukan harta karun itu tertimbun di akar-akarnya.

Dan sekarang setelah harta karunnya ditemukan, ia berencana kembali ke padang-padang pasir di Afrika, ke Fatima.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s